-MINT-
Capter I
Keluarga
Song
Aku
tersenyum menatap keindahan kota Seoul, walaupun kakiku mulai lunglai manapaki
trotoar di pusat kota Seoul ini. Memang belum genap 1 bulan aku menginjakkan
kakiku disini. Jangan pikir aku ini gadis cantik keturunan korea, sayangnya ak hanya
di adopsi oleh keluarga baik hati dari Korea yang sudah lama tinggal di
Indonesia.
“Oppa,
tunggu aku!” sahutku terengah-engah
“Cepatlah
Tika, oneul .. uri %#@!@!?*&%$@” (bicara bahasa korea) jawabnya marah-marah
Aku
tidak begitu paham dengan apa yang ia katakan, aku memang suka menonton drama
korea, aku sedikit-sedikit bisa berbahasa korea, tapi tidak sepaham itu.
“Oppa,
kau bicara apa? Aku tidak mengerti. Oppa, berjalanlah sedikit lebih tenang
kakimu itu panjang tidak seperti aku yang pendek.” Jawabku sambil sedikit
berlari.
Jonghyun
oppa meneruskan kuliahnya di Korea, sedangkan Aku memilih untuk tidak
melanjutkan dulu pendidikanku, karena aku belum paham dengan sistem pendidikan
korea terlebih bahasa koreaku yang sangat parah.
“ya!!
Joyongihae! Balliwa!” teriaknya marah,
semua
orang yang mendengar langsung menatapku, dan terpaksa aku menutup wajahku
dangan syal.
“kalau
tahu akan seperti ini sebaiknya aku menunggu Jungsin Oppa saja di rumah, dia
akan mengajakku jalan-jalan dan tidak akan memarahiku” sahutku sedikit
berteriak di samping tubuhnya yang tinggi.
“Jungsin
Hyung sangat sibuk hari ini jangan mengganggunya” jelasnya,
“tapi
kalau dia tahu aku selalu di marahi olehmu dia akan memarahimu juga” tak mau kalah.
“Oppa
aku sangat lelah kau duluan saja, aku masih ingat jalan menuju kampusmu”
lanjutku,
“baiklah,
terserah kau saja. Kalau kau tersesat atau sesuatu terjadi padamu kau tahu apa
yang harus kau lakukan kan?” jawabnya meremehkan.
“Oppa,
aku sudah 1 bulan disini, setidaknya aku tahu jalan untuk pulang” jawabku
membela diri.
“bodoh!
Untuk apa di dunia ini ada ponsel” sedikit membentak kemudian pergi.
Mungkin
aku hanya seorang gadis beruntung yang bisa masuk ke dunia para pangeran
berkuda putih ini, tapi walau bagaimanapun aku bagaikan puteri disana.
Bagaimana tidak? aku hanya satu-satunya anak perempuan dari semua saudara
laki-lakiku. Saudara laki-laki angkatku tepatnya. Itulah alasan mereka
mengadopsiku, walaupun tidak secara resmi. Hari-hari pertamaku tinggal bersama
keluarga Song memang sedikit menyiksa, terlebih saat Jonghyun Oppa
mengganggapku sebagai saingannya, ya .. sebagai seorang anak bungsu yang selalu
ingin di perhatikan dan saat Aku datang semua perhatian beralih padaku membuat
Jonghyun Oppa sedikit sinis padaku. Mungkin emosi seorang anak kecil yang
secara indahnya kata-kata tidak mengenakkan keluar dari mulutnya membuatku
sangat tidak nyaman. Tapi saat aku mengingat Jungsin Oppa rasa tidak nyaman itu
seketika akan hilang, mungkin hanya dia yang mengerti aku pada saat itu. Sebagai
anak perempuan yang sedang beranjak dewasa aku sangat nyaman berada di samping
kakak laki-lakiku yang satu ini. Mungkin jika aku adalah Geum Jan Di, Jungshin
Oppa akan menjadi Goo Joon Pyo, atau Aku adalah Chun Hyang dan Oppa adalah Lee
Meong Ryeong.
Malam
itu aku sedang menangis terisak di balkon depan kamarku. Entah kenapa malam ini
aku sangat ingin menangis saat aku melihat foto keluargaku yang sangat usang,
kelihatan seperti keluarga yang sangat harmonis, tapi di dalam keindahan foto
itu tersimpan sejuta rahasia. Rahasia yang mungkin semua orang sudah
mengetahuinya. Pikiranku melayang saat aku mengingat kejadian 2 tahun yang
lalu, dimana pagi itu Ibuku meninggal dunia. Seperti biasa, hari ini Bang Rido
kakak kandungku pulang larut malam, Ibuku sampai tertidur di sofa ruang tamu
menunggunya. Ibu tidak tahu apa yang anak tertuanya lakukan di luar sana, yang
ia tahu anaknya sedang mengerjakan tugas akhirnya dan berusaha untuk lulus
dengan nilai terbaik. Namun apa yang ibuku pikirkan itu salah. Bang rido sudah
terlalu jauh untuk melangkah, melangkahkan kakinya menuju dunia yang kelam. 2
bulan belakangan aku sering memergokinya sedang merokok di balkon kamarnya atau
sedang minum minuman berwarna yang bagiku baunya seperti ruamh sakit. Tapi aku
tidak sanggup untuk mengatakannya pada Ibu, terlalu besar harapan Ibu pada bang
rido. Dan sepertinya bang rido sudah terjatuh terlalu dalam, ia mulai kecanduan
narkoba, namun entah kenapa Ibuku tidak pernah menyadarinya.
“Rido,
Jam berapa ini?” tanya ibu saat terdengar suara langkahnya yang cepat.
“….”
hanya menunduk
“pertanyaan
ibu belum kamu jawab”
“jam
2 bu,”
“terus
kenapa baru pulang?”
“Rido diskusiin bab 3 di
rumah temen bu, dan tadi sempet ketiduran. Maafin rido ya bu”
“ya
ibu maafin, jangan di ulang yah ..”
“Iya
bu, satu lagi .. rido mohon ibu jangan nunggu rido pulang sampai ketiduran di
sofa lagi yah bu? ” sahutnya tidak tega
“…”
hanya tersenyum sambil berlalu
Pagi
itu bang Rido sepertinya sedang sakau,
wajahnya sangat pucat badannya menggigil. Tiba- tiba saja ia keluar dari
kamarnya berteriak-teriak tidak karuan. Aku melihat ibu berusaha untuk menahan
bang rido dengan sekuat tenaga. Dan saat itu pula aku melihat ibu terjatuh dari
tangga karena rontaan bang rido yang sangat kuat. Jangan tanya soal Ayah kami,
lelaki hidung belang itu sedang tidak dirumah saat itu. Dia bilang akan ada
perjalanan keluar kota selama 3hari. Aku hanya bisa menangis di sebelah tubuh
ibuku yang sudah bercucuran darah, entah apa yang harus aku lakukan.
Tuhan, bila aku ingat saat itu hatiku sangat sakit.
Komentar
Posting Komentar